Hmm..Kasih atau Nggak yah?
Ah sudahlah..nggak usah dikasih aja..sayang..
Lebih baik untukku aja semuanya..
Sobat..
Seringkali, tanpa kita sadari kita yang menghambat diri kita untuk berbuat kebajikan dan kemurahan bagi sesama kita..
Padahal sebenarnya, kita bisa dan kita mampu, namun masalahnya kita yang tidak mau..
Semuanya selalu pakai hitung-hitungan..dalam hati kita berkata, "Kalau aku berikan ini untuknya, berarti nanti untukku tinggal sedikit...yahh..aku ga mau!!!"
Kita sering lebih banyak takutnya kalau nanti kita jadi kekurangan karena telah memberikan sebagian dari milik kita untuk orang lain...
Sobat..
Disinilah letak keunikan M.E.M.B.E.R.I itu..
Bahwa kita,
Merelakan apa yang menjadi milik kita untuk dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan
Menikmati berkat dengan cara menjadi saluran berkat
Berusaha untuk selalu mendahulukan orang lain
Dan apa yang menjadi dasar dari semua itu?
Kasih dan ketaatan kepada Tuhan..
Sering sekali orang-orang berkata,
"Nantilah, kalau aku uda punya cukup uang, baru aku bantu orang lain.."
Pertanyaannya,
Secukup apakah?Sebanyak apakah?Sebesar apakah?
Karena apapun ceritanya, manusia sulit sekali untuk merasakan yang namanya cukup..
yang ada selalu saja kurang..
Lalu?
Kapan waktu terbaik untuk memberi?
Mungkin ada yang jawab, ketika kita punya banyak uang..
Nah, Kalau kita punya banyak uang, kita pasti akan mudah melakukannya..
Apakah benar semuany seperti itu, Sobat?
Mungkin ada benarnya, tetapi ada juga lho, orang yang hidupnya semakin kaya, eh dia malah semakin pelit..mungkin dia merasa kaya kurang kaya..
Atau mungkin ada yang jawab, ketika kita benar-benar dalam masa-masa kecukupan..
Jadi setelah kita bisa memenuhi kebutuhan kita dulu, barulah kita memikirkan orang lain..
Nah, kalau yang ini, mungkin sedikit masuk di akal..
Atau ada yang jawab, kita memberi setiap saat, bahkan ketika kita pun sedang di dalam kekurangan..
Adakah yang setuju dengan pernyataan saya ini?
Atau ada yang bilang, mana mungkin...Dapat dipastikan tidak akan ada orang yang dapat melakukannya..
Sobat,
Hari ini aku teringat akan kisah Janda Sarfat yang dapat memberi di tengah keterbatasannya..Dan oleh karena ketaatannya kepada Tuhan, maka ia pun memberikan apa yang Elia minta..(baca 1 Raja-raja 17: 7-24) dan mukjizat terjadi..Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti Firman Tuhan..
Dapatkah kita seperti Janda Sarfat, yang bersedia memberi di tengah keterbatasannya?
Bersediakah kita untuk memberi yang terbaik untuk Tuhan, sekalipun kita sedang dalam kondisi yang sangat kekurangan..?
Tanyalah pada diri kita masing-masing?
Siapa yang lebih kita kasihi?
Pribadi kita kah?Atau Tuhan?
Ingatlah..
Semakin hati kita melekat pada dunia ini, maka kita pun jauh dari Tuhan..
Semakin kita menggenggam dunia ini, maka dunia ini yang akan semakin menjerat kita..
Sobat..
Bukan besar kecilnya apa yang kita beri
Tetapi sikap hati kita saat memberi lah yang dilihat Bapa..
Bukan kaya atau tidaknya dirimu,
Tetapi kasih dan ketaatan pada Tuhanlah yang terpenting..
Mari memberi dengan kasih, mari berkorban dengan rela,
Seperti kasih Tuhan bagimu, demikianlah hendaknya kasihmu pada sesamamu..
Seperti Tuhan memberi padamu, berilah yang terbaik untuk DIA dan sesamamu..
Selamat berbagi kasih, Sobat..
Jadilah perpanjangan tangan kasih Tuhan, dimana saja, kapan saja dan untuk siapa saja..
Karena memberi pun adalah sebuah tanda ucapan syukur atas kebaikan Tuhan dalam hidup kita..

